Faruq Juwaidah adalah penyair modern ternama berkebangsaan Mesir, kelahiran 10 Februari 1945. Ia berkarier sebagai jurnalis di salah satu surat kabar tertua Mesir, Al-Ahram, dan telah menerbitkan 20-an buku dalam berbagai genre, mulai puisi, prosa-lirik, drama, serta kritik wacana kontemporer, baik dalam bidang ekonomi, budaya, maupun politik. Sebagai penyair, ia terkenal dengan sajak-sajak cin…
“Andai aku diberi pilihan tentang suatu negeri Kukatakan bahwa engkau adalah negeriku Jika aku melupakanmu, oh kekasih hidupku Maka hatiku yang tulus juga akan melupakanku Jika aku tersesat di tengah jalan Di matamu alamatku” (Faruq Juwaidah)
Sepanjang sejarah interaksi perempuan dan lelaki di dunia ini, perempuan banyak mengalami perlakuan yang tidak nyaman dan diskriminatif, khususnya di masyarakat Timur Tengah. Meskipun tanah Timur Tengah menjadi tempat turunnya berbagai kitab suci yang membawa pesan-pesan kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan, namun perempuan di tanah sakral tersebut seakan-akan masih menjadi tumbal dari kedigday…
Aku merindukan sungai kecil Pada kedua matamu Aku melihat dirimu Sebagai pagi, bait puisi Juga impian Aku mendapatimu Pada segala hal yang menggairahkan Aku sudah melampaui dosa-dosa malam Aku sudah memaafkan Zaman edan pada dirimu Faruq Juwaidah
Kepenyairan Nizar Qabbani memang telah menyita perhatian banyak orang. Tema-tema cinta yang ia angkat membuat dirinya ditahbiskan sebagai Penyair Cinta atau Penyair Perempuan abad modern. Dari sekian banyak puisi cintanya, Nizar selalu berbicara tentang perempuan atau kadang kala ia bersuara begitu lantang atas nama perempuan. Nizar memang pribadi yang mampu menciptakan romantisme mendalam tent…
Mengapa harus puisi, Mathar? Apakah kau bertanya padaku? Mengapa bulan harus muncul? Mengapa hujan harus turun? Mengapa parfum harus wangi? Apakah kau bertanya padaku? Mengapa takdir itu turun? Aku adalah tumbuhan alami Burung yang bebas Semilir angin yang sejuk Tempat berpulang Dan air matanya bergulir
Selama tiga dekade akhir masa hidupnya, Nizar Qabbani begitu intens menulis sajak-sajak politik. Pada periode ini, sajak-sajaknya berhasil mencetak dirinya menjadi “politisi” dalam arti yang lain. Sebagai pribadi yang independen, ia memang tak memiliki afiliasi ke partai politik mana pun. Namun, sebagai seorang “politisi dalam puisi”, ia selalu hadir sebagai oposisi. Lawan-lawan politik…
Buku ini adalah terjemahan dari karya Anis Mansour (1924–2011), salah seorang sastrawan Mesir terkemuka, yang berjudul Qālu. Buku ini menghimpun ratusan kata-kata mutiara atau yang sering kita sebut quote tentang asmara, rumah tangga, wanita-lelaki, pernikahan, jomblo, tragedi, dan hal-hal getir lainnya seputar peristiwa paling agung dalam sejarah umat manusia: cinta. Kendati hanya menghimpu…
Dulu kau pernah berkata: Kelak aku akan kembali Ketika tiba musim semi Musim semi sudah berlalu Bahkan ia sudah datang berkali-kali Silih berganti Hari-hari juga terus beranjak pergi Setiap hari Aku membangkitkan harapan di hatiku Sambil menunggu Orang-orang telah kembali Musim semi juga sudah berlalu Hati mulai merasakan Getirnya sebuah penantian Apakah kau sudah lupa, Ke…