Sepanjang sejarah interaksi perempuan dan lelaki di dunia ini, perempuan banyak mengalami perlakuan yang tidak nyaman dan diskriminatif, khususnya di masyarakat Timur Tengah. Meskipun tanah Timur Tengah menjadi tempat turunnya berbagai kitab suci yang membawa pesan-pesan kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan, namun perempuan di tanah sakral tersebut seakan-akan masih menjadi tumbal dari kedigday…
lima hari berbantal ombak berselimut angin baru kutiba di pantai losari pisang panggang dan sarung makassar yang merah kesumba mengajarku hidup di laut karena lama di darat aku tak betah olle ollang memanjat ombak mengejar angin menurut cerita aku ini keturunan pejuang penguasa laut jawa pada abad-abad yang lalu
Nama buku Kumpulan Puisi ini benar-benar menggambarkan alam Penyair dan puisi-puisinya. Asmaraloka. Catatlah, kelahiran Penyair Cinta ini. Usman Arrumy. -KH. A Mustofa Bisri Usman Arrumy menurut hemat saya adalah seorang penyair penghayat. Buku-buku sufi yang ditelaahnya cukup banyak. Bahkan ia telah menerjemahkan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono ke dalam bahasa Arab, dan hasilnya bagus. Be…
“hana nguni hana mangke tan hana nguni tan hana mangke” Selarik kata-kata dari Amanat Galunggung itu jika diterjemahkan, kira-kira begini artinya: ada masa lalu maka ada masa kini, tak akan ada masa kini kalau tidak ada masa lalu. Mereka, masa lalu, masa kini, dan masa depan, bersatu dalam satu tubuh. Tubuh waktu. Puisi bagi saya adalah masa lalu, masa kini, dan masa depan. Puisi mencari…
Aku merindukan sungai kecil Pada kedua matamu Aku melihat dirimu Sebagai pagi, bait puisi Juga impian Aku mendapatimu Pada segala hal yang menggairahkan Aku sudah melampaui dosa-dosa malam Aku sudah memaafkan Zaman edan pada dirimu Faruq Juwaidah
Bangun tidur, ia langsung menghidupkan telepon genggam: mudah-mudahan ada pesan. Masih ngantuk. Masih ada kabut mimpi di matanya. Masih temaram. Sebenarnya apa perlunya pagi-pagi menyalakan telepon genggam? Paling-paling cuma dapat pesan ringan: “Bagaimana tidurmu semalam? Tadi saya menunggu lama di kuburan.”
Kepenyairan Nizar Qabbani memang telah menyita perhatian banyak orang. Tema-tema cinta yang ia angkat membuat dirinya ditahbiskan sebagai Penyair Cinta atau Penyair Perempuan abad modern. Dari sekian banyak puisi cintanya, Nizar selalu berbicara tentang perempuan atau kadang kala ia bersuara begitu lantang atas nama perempuan. Nizar memang pribadi yang mampu menciptakan romantisme mendalam tent…
Saya bertolak sekarang ke ladang. Sebagai roh. Menyapa kopra, kebun kelapa, karet dan jati. Sonder jantung. Melayang ke gerbang makam, makam saya. Manis gula merah sebagai pelipur. Tetapi sekarang saya roh. Mengendus sunyi bijih besi Tegal Buleud seperti menyongsong magrib tiba. * Puisi adalah niat baik, adalah proses berjalan. Entah apa saya sudah tiba pada niat baik atau terlampau…
Mungkin di seberang, di laut lepas itu sebuah kuil telah raib, dan kita terus bertanya-tanya Apakah di laut, di pulau yang karam itu sebuah rahasia mulai tak terdengar dan gemanya, tak lagi memanggil-manggil nama kita? Puisi-puisi dalam buku ini menyoal diri yang tak selesai: eksistensi yang tercerai berai, kekalahan dan perlawan dalam hidup yang kebak oleh nasib buruk. Ia mengajak man…
senja itu datang entah dari mana burung yang mati tak pergi ke surga di Siwalanpanji, setiap kejadian meninggalkan gigitan * Puisi-puisi yang kutulis di buku ini, berawal dari sebuah mimpi buruk. Tahun 2016, di tengah perjalanan pulang ke Surabaya, pukul 02.00 mimpi buruk itu mendatangiku: kantorku terkubur lumpur, lalu aku pergi ke sebuah kota di tengah malam, di perjalanan itu kulihat …
Kau adalah masa silamku yang tercecer Pada serpihan kertas. Aku masih membacamu Meski pandanganku mulai samar-samar Kau adalah masa silamku yang tersisa Pada gulungan kaset. Aku masih mendengarmu Meski telingaku hanya menangkap kebisuan Kau adalah masa silamku yang teronggok Pada keranjang sampah. Aku masih memilahmu Meski tanganku sulit membedakan terang dan gelap Kau adalah mas…
Sedari bulan tiga Aku pulang ke rumah Meremas cemas dan resah Melangitkan doa 12 tanggalnya Bulan kelima Ibu mertua Kembali pulang ke haribaan-Nya 12 tanggalnya Ketujuh bulannya Ibuku tercinta Pun kembali pulang ke haribaan-Nya Runtuh langit Terbelah tanah Segala sakit Mencekik alir darah Bisik Bunda Wartakan cinta Berpulang Bunda Karena rindu-Nya Puisikan saja Se…
Mengapa harus puisi, Mathar? Apakah kau bertanya padaku? Mengapa bulan harus muncul? Mengapa hujan harus turun? Mengapa parfum harus wangi? Apakah kau bertanya padaku? Mengapa takdir itu turun? Aku adalah tumbuhan alami Burung yang bebas Semilir angin yang sejuk Tempat berpulang Dan air matanya bergulir
Beasiswa unggulan dari Kemendikbud RI dan fasilitas teknis dari Komite Buku Nasional (KBN) menjadi ihwal, sehingga residensi penulis dua bulan di Belanda (Juli dan Agustus 2017) adalah berkah bagi saya. Di Negeri Kincir Angin itu saya tak semata melakukan riset dan napak tilas jejak Raden Saleh—sebagai peranti untuk menyelesaikan sebuah novel berlatar sejarah yang saya tulis bersama Iksaka Ba…
lalu mereka yang terkapar pahlawankah jadinya yang ditinggal begitu saja darah-darah mereka bersaut berperang dengan nasib “setia hamba setia berbalas, setia tuanku setia terbatas” * Dalam teater tradisi Mendu, tokoh Mendu digambarkan sebagai pahlawan. Namun, pada sudut lain, perempuan dalam posisi yang begitu rendah. Perempuan-perempuan ditempatkan sebagai gundik, pelayan, perempua…
Puisi-puisi dalam Jari Tengah ini terbangun karena teks, visual, dan audiovisual yang meminjam dua kategori pengalaman. Pertama, pengalaman di luar diri penyair, dalam hal ini orang-orang. Saya ingin menyebut khusus pengalaman itu berasal dari Kakek dan Nenek saya, yang mana di kampung, mereka cukup dikenal sebagai dukun dan pabarzanji. Kedua, pengalaman saya pribadi membaca, mendengar, dan mel…
Dalam waktu kehilangan adalah jarum patah angka-angka patuh mengembalikan kita dalam bentuk utuh bukan siapa-siapa tidak apa-apa juga bagaimana tapi kapan maut dan cinta bersiteru di sublim waktu * Puisi adalah wahana dialog antara diri sendiri dan momentum tentang perjalanan dari sebuah kehilangan hingga menemukan. Dan buku ini adalah sebuah gagasan yang bisa menjadi jembatan unt…
Di toko buku, sering kali buku puisi menjelma makhluk “antara ada dan tiada”. Di hadapan buku puisi, orang-orang lalu lalang, namun tidak memandang ke arahnya. Di lain waktu, sepasang remaja perempuan membongkar rak buku itu dan mencari buku puisi romantis. Seorang di antaranya menyarankan untuk tidak memaksakan diri mencari buku tersebut. “Cari saja di google!” katanya seraya berlalu. …
Bulu matamu: padang ilalang Di tengahnya sebuah sendang Kata sebuah dongeng. Dulu ada seorang musafir datang bertapa untuk membuktikan apakah benar wajah bulan bisa disentuh lewat dasar sendang Ia tak percaya, maka ia menyelam Tubuhnya tenggelam dan hilang di arus maha dalam. Arwahnya menjelma pusaran air berwarna hitam Bulu matamu: padang ilalang.
Tapi khatib-khatib di masa ketika pihak pemberontak telah dikalahkan telah dijemput dari rumah istrinya, dinaikkan ke atas truk dan diturunkan di sawah berawa-rawa untuk di benamkan hidup-hidup. Khatib-khatib lain tidaklagi berani berkata apa-apa di atas mimbar, dan shalat jumat berlangsung begitu cepat, didahului oleh khotbah si bisu. Tentara pendudukan dari seorang perdana menteri tambun yang…
Selama tiga dekade akhir masa hidupnya, Nizar Qabbani begitu intens menulis sajak-sajak politik. Pada periode ini, sajak-sajaknya berhasil mencetak dirinya menjadi “politisi” dalam arti yang lain. Sebagai pribadi yang independen, ia memang tak memiliki afiliasi ke partai politik mana pun. Namun, sebagai seorang “politisi dalam puisi”, ia selalu hadir sebagai oposisi. Lawan-lawan politik…
Dalam buku ini, saya ingin mendokumentasikan sebuah kota yang dulu pernah berjaya di masa lalu, pada zaman kerajaan, lalu kejayaan itu runtuh ketika orang-orang Alas Angin atau Eropa datang ke Nusantara. Meski tidak lengkap, setidaknya ada secuil yang bisa saya catat melalui media puisi. Mulai dari awal kota itu berdiri dan diberi nama, yang menurut mitosnya berasal dari watu tiban atau batu ya…
Buku ini adalah terjemahan dari karya Anis Mansour (1924–2011), salah seorang sastrawan Mesir terkemuka, yang berjudul Qālu. Buku ini menghimpun ratusan kata-kata mutiara atau yang sering kita sebut quote tentang asmara, rumah tangga, wanita-lelaki, pernikahan, jomblo, tragedi, dan hal-hal getir lainnya seputar peristiwa paling agung dalam sejarah umat manusia: cinta. Kendati hanya menghimpu…
Buku sajak tentang Don Quixote, yang dapat sambutan baik dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris serta Jerman, kini diterbitkan kembali dengan beberapa sajak baru. Goenawan Mohamad, yang juga perupa, membuat gambar-gambar Don Quixote— salah satunya jadi bahan kulitmuka buku ini. Ia juga menulis teks untuk wayang golek Den Kisot, yang akan dipentaskan bersama peluncuran terjemahan novel Cerv…
Puisi-puisi saya dalam antologi ini secara khusus memaktub tema lokalitas, baik itu konstelasi sejarah, mitos, atau objek pariwisata. Lokalitas sebagai dasar penciptaan bukan semata dalam rangka mengagungkan alam sekitar, atau mempromosikan kepada publik agar punya nilai yang layak jual. Lebih dari itu, lokalitas adalah panggung pengindraan yang memunculkan respons intuitif yang lebih sinergis …
Apa yang tersisa Dari percintaan kita? Setelah seluruh luruh Sukma kau aku dibasuh * Kita tidak sedang memperdebatkan, lebih dulu mana antara cinta dan pengetahuan. Bagi Erich Fromm yang sesungguhnya jauh hari sebelumnya sudah diungkap oleh Imam al-Ghazali di dalam Ihya’ ‘ulumuddin, memang cinta selalu didahului oleh pengetahuan sebab bagi mereka, “Tak kenal, maka tak sayang”. Teta…
Faruq Juwaidah dikenal sebagai salah seorang penyair terkemuka dalam gerakan puisi Arab kontemporer. Puisi-puisinya liris, disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan jujur, namun menukik. Ia dianggap mampu mengorganisir banyak warna dalam puisi Arab, dari puisi-puisi dengan rima vertikal hingga puisi-puisi dengan gaya dramatik. Puisi-puisi dan dramanya telah diterjemahkan ke dalam beberapa ba…
terhampar padang luas namun bukan Kurusetra. tiada Pandawa atau Kurawa. padang luas itu bukan pula Mahsyar. namun, di sana kau dan tentu kekasihmu diberi kehendak untuk bertemu. * Saya mempercayai benar bahwa kultur Jawa sejatinya berisi banyak simbol. Dalam prosesi pernikahan, misalnya, beragam simbol dibuat dalam bentuk prosesi-prosesi yang panjang dan bertahap. Rangkaian panjang ters…
Dulu kau pernah berkata: Kelak aku akan kembali Ketika tiba musim semi Musim semi sudah berlalu Bahkan ia sudah datang berkali-kali Silih berganti Hari-hari juga terus beranjak pergi Setiap hari Aku membangkitkan harapan di hatiku Sambil menunggu Orang-orang telah kembali Musim semi juga sudah berlalu Hati mulai merasakan Getirnya sebuah penantian Apakah kau sudah lupa, Ke…