Saya kerap memosisikan diri saya di luar diri saya; menonton diri saya sedang terlibat dalam suatu peristiwa. Cara tersebut saya gunakan untuk memberi jarak antara peristiwa dan emosi. Dengan begitu, saya lebih bisa melihat peristiwa tersebut dengan sudut pandang paling praktis, yaitu sudut pandang ekonomi. Para tokoh dalam buku ini saya bangun berdasarkan motif-motif ekonomi: tawar-menawar,…
Bila dibaca lebih dekat, cerpen-cerpen Maywin sesungguhnya berbicara perihal determinasi kapitalisme atas lingkungan alam, ruang sosial, serta individu. Tetapi melalui gaya yang unik dan kalimat-kalimat yang cenderung panjang, dia menyamarkan semua itu dengan mengeksplorasi kondisi kejiwaan tokoh-tokohnya sebagai konsekuensi dari kondisi tersebut. Dengan nuansa Kafkaesque dan sentuhan-sentuhan …
Puisi-puisi dalam buku ini menghimpun suara seorang perempuan belia yang menuturkan kesendirian, kehilangan, kenangan, cinta, relasi yang rumit, usia, seseorang yang rapuh di hadapan waktu yang terus berlalu. Apa yang disuarakan oleh subjek puisi ini seperti menjadi pintu masuk bagi saya untuk melihat kembali proses awal saya menulis puisi ketika saya lebih banyak membahasakan diri dalam pernya…