Di suatu bagian dalam Les Mots, Sartre menulis: “Meski tak terlihat di kegelapan, buku tetap berkilau demi dirinya sendiri. Di kemudian hari, akan kuberikan kepada karya-karyaku nada keras setajam sorotan cahaya itu, dan lebih nanti di kemudian hari, di tengah-tengah puing-puing perpustakaan, karya itu akan lebih lestari daripada manusia sendiri.” Nukilan dari Sartre agaknya sedikit banyak …
Hatiku jendela yang membuka Seperti kulihat wajahku ke dalam cermin Maka di dalam cermin itu kulihat wajahmu juga Yang menerangi bahwa hari ini adalah puisi indah - Hari Ini adalah Puisi Indah Setelah menulis sajak, lalu membacanya ulang, saya menjadi yakin, sajak merupakan harapan di antara tampilan citraan, dan pernyataan, yang ditegakkan untuk merobohkan keputusasaan dalam realitas hi…
Bintang gemintang berjatuhan ingin mendekat kepadanya sampai-sampai seluruh penjuru terang benderang dihujani cahaya Gedung paviliun kaisar Rum satu per satu menampakkan diri sampai-sampai semua orang di Lembah Makkah dapat melihatnya *** Buku puitis karya Imam Bushiri ini adalah sekuel kedua dari buku (kitab) terkenal Qasidah Burdah, yang jamak dibacakan dan didendangkan oleh um…
Tahta Sungkawa merupakan kumpulan puisi terbaru Binhad Nurrohmat. Ditulis ketika pandemi tengah berlangsung. Masa ketika bermiliar rasa khawatir dan ledakan statistik kematian bagaikan perayaan besar yang gaduh dan muram terjadi setiap hari dan yang tak mustahil menginfeksi kehidupan manusia. Menurutnya, hidup di masa pandemi membuatnya merasa menjadi makhluk berdarah dingin: asyik dengan kata …
Han Na o Han Na, katakan padaku kematian macam apa yang tak akan menundukkan kepala di hadapan mata si gila? Sungguh menyenangkan usiaku lewat sia-sia karena membayangkanmu Tersenyum-senyum sendiri melihat wajahmu meloncat dari satu benda ke benda lain Sedih mengharu-biru kala teringat kau dan aku tak mungkin bisa bersatu * Sajak-sajak di dalam buku ini saya buat dalam rentang wakt…
Puisi-puisi dalam buku ini menjadi semacam percakapan puitik Rieke Diah Pitaloka dan Agus Noor. Dari satu puisi ke puisi lainnya, ada semacam tema yang membuat puisi-puisi itu saling terkait dan terikat. Puisi menjadi ruang untuk saling berbagi, juga menjadi semacam jeda, untuk menikmati kenangan dan hal-hal lainnya. Maka, puisi-puisi dalam buku ini, seakan berada dalam ketegangan yang menga…
Antologi puisi Negeri Daging adalah sebentuk “keistiqomahan” penulisnya dalam mengikuti perjalanan kehidupan makhluk Tuhan yang ia cintai: manusia dan Indonesia. Apa yang tertuang di dalamnya secara langsung, jernih, dan benderang mampu mengungkap sikap dan gerak hati penulisnya. Tak ada lagi beban untuk memilih-milih dan memacak kata yang indah, agung, dan “puitis”. Seperti setia…
wahai kepulangan, bau amis laut membentangkan kehampaan ke mana perginya kebahagiaan? sebab adat membenamkan pertemuan dan menelan kebisingan * Apakah saya akan menulis puisi sampai mati? Berkali-kali saya pernah mencoba berhenti menulis puisi. Namun, panggilan menulis itu datang lagi. Beberapa tahun saya abaikan puisi karena kesibukan kantor. Namun, huruf-huruf bermunculan dalam mimpi-mi…
Kekhusyukan adalah gelombang Yang mengendap jauh di balik dada Hempasan ombak yang mengental Pada lubuk hati. Adapun keheningan Tak lain puncak tertinggi dari puisi Yang dibangun seorang penyair Menjadi doa. Sebuah menara sunyi Yang tegak di antara kehancuran Dan kebangkitan kembali kata-kata
Berbeda dengan puisi tema lain yang kadang memiliki motif tertentu, entah itu politis maupun estetis, bagi saya puisi cinta—meminjam istilahnya Umbu Landu Paranggi—adalah puisi “zero referensi”. Puisi yang tak membutuhkan rujukan laiknya puisi dengan tema yang lebih spesifik. Begitu pun puisi bertema maut (dalam pengertian luas) yang menjadi bagian kedua di buku ini. Sebagaimana cint…
Sepanjang sejarah interaksi perempuan dan lelaki di dunia ini, perempuan banyak mengalami perlakuan yang tidak nyaman dan diskriminatif, khususnya di masyarakat Timur Tengah. Meskipun tanah Timur Tengah menjadi tempat turunnya berbagai kitab suci yang membawa pesan-pesan kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan, namun perempuan di tanah sakral tersebut seakan-akan masih menjadi tumbal dari kedigday…
lima hari berbantal ombak berselimut angin baru kutiba di pantai losari pisang panggang dan sarung makassar yang merah kesumba mengajarku hidup di laut karena lama di darat aku tak betah olle ollang memanjat ombak mengejar angin menurut cerita aku ini keturunan pejuang penguasa laut jawa pada abad-abad yang lalu
Nama buku Kumpulan Puisi ini benar-benar menggambarkan alam Penyair dan puisi-puisinya. Asmaraloka. Catatlah, kelahiran Penyair Cinta ini. Usman Arrumy. -KH. A Mustofa Bisri Usman Arrumy menurut hemat saya adalah seorang penyair penghayat. Buku-buku sufi yang ditelaahnya cukup banyak. Bahkan ia telah menerjemahkan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono ke dalam bahasa Arab, dan hasilnya bagus. Be…
“hana nguni hana mangke tan hana nguni tan hana mangke” Selarik kata-kata dari Amanat Galunggung itu jika diterjemahkan, kira-kira begini artinya: ada masa lalu maka ada masa kini, tak akan ada masa kini kalau tidak ada masa lalu. Mereka, masa lalu, masa kini, dan masa depan, bersatu dalam satu tubuh. Tubuh waktu. Puisi bagi saya adalah masa lalu, masa kini, dan masa depan. Puisi mencari…
Aku merindukan sungai kecil Pada kedua matamu Aku melihat dirimu Sebagai pagi, bait puisi Juga impian Aku mendapatimu Pada segala hal yang menggairahkan Aku sudah melampaui dosa-dosa malam Aku sudah memaafkan Zaman edan pada dirimu Faruq Juwaidah
Bangun tidur, ia langsung menghidupkan telepon genggam: mudah-mudahan ada pesan. Masih ngantuk. Masih ada kabut mimpi di matanya. Masih temaram. Sebenarnya apa perlunya pagi-pagi menyalakan telepon genggam? Paling-paling cuma dapat pesan ringan: “Bagaimana tidurmu semalam? Tadi saya menunggu lama di kuburan.”
Kepenyairan Nizar Qabbani memang telah menyita perhatian banyak orang. Tema-tema cinta yang ia angkat membuat dirinya ditahbiskan sebagai Penyair Cinta atau Penyair Perempuan abad modern. Dari sekian banyak puisi cintanya, Nizar selalu berbicara tentang perempuan atau kadang kala ia bersuara begitu lantang atas nama perempuan. Nizar memang pribadi yang mampu menciptakan romantisme mendalam tent…
Saya bertolak sekarang ke ladang. Sebagai roh. Menyapa kopra, kebun kelapa, karet dan jati. Sonder jantung. Melayang ke gerbang makam, makam saya. Manis gula merah sebagai pelipur. Tetapi sekarang saya roh. Mengendus sunyi bijih besi Tegal Buleud seperti menyongsong magrib tiba. * Puisi adalah niat baik, adalah proses berjalan. Entah apa saya sudah tiba pada niat baik atau terlampau…
Mungkin di seberang, di laut lepas itu sebuah kuil telah raib, dan kita terus bertanya-tanya Apakah di laut, di pulau yang karam itu sebuah rahasia mulai tak terdengar dan gemanya, tak lagi memanggil-manggil nama kita? Puisi-puisi dalam buku ini menyoal diri yang tak selesai: eksistensi yang tercerai berai, kekalahan dan perlawan dalam hidup yang kebak oleh nasib buruk. Ia mengajak man…
senja itu datang entah dari mana burung yang mati tak pergi ke surga di Siwalanpanji, setiap kejadian meninggalkan gigitan * Puisi-puisi yang kutulis di buku ini, berawal dari sebuah mimpi buruk. Tahun 2016, di tengah perjalanan pulang ke Surabaya, pukul 02.00 mimpi buruk itu mendatangiku: kantorku terkubur lumpur, lalu aku pergi ke sebuah kota di tengah malam, di perjalanan itu kulihat …
Kau adalah masa silamku yang tercecer Pada serpihan kertas. Aku masih membacamu Meski pandanganku mulai samar-samar Kau adalah masa silamku yang tersisa Pada gulungan kaset. Aku masih mendengarmu Meski telingaku hanya menangkap kebisuan Kau adalah masa silamku yang teronggok Pada keranjang sampah. Aku masih memilahmu Meski tanganku sulit membedakan terang dan gelap Kau adalah mas…
Sedari bulan tiga Aku pulang ke rumah Meremas cemas dan resah Melangitkan doa 12 tanggalnya Bulan kelima Ibu mertua Kembali pulang ke haribaan-Nya 12 tanggalnya Ketujuh bulannya Ibuku tercinta Pun kembali pulang ke haribaan-Nya Runtuh langit Terbelah tanah Segala sakit Mencekik alir darah Bisik Bunda Wartakan cinta Berpulang Bunda Karena rindu-Nya Puisikan saja Se…
Mengapa harus puisi, Mathar? Apakah kau bertanya padaku? Mengapa bulan harus muncul? Mengapa hujan harus turun? Mengapa parfum harus wangi? Apakah kau bertanya padaku? Mengapa takdir itu turun? Aku adalah tumbuhan alami Burung yang bebas Semilir angin yang sejuk Tempat berpulang Dan air matanya bergulir
Beasiswa unggulan dari Kemendikbud RI dan fasilitas teknis dari Komite Buku Nasional (KBN) menjadi ihwal, sehingga residensi penulis dua bulan di Belanda (Juli dan Agustus 2017) adalah berkah bagi saya. Di Negeri Kincir Angin itu saya tak semata melakukan riset dan napak tilas jejak Raden Saleh—sebagai peranti untuk menyelesaikan sebuah novel berlatar sejarah yang saya tulis bersama Iksaka Ba…
lalu mereka yang terkapar pahlawankah jadinya yang ditinggal begitu saja darah-darah mereka bersaut berperang dengan nasib “setia hamba setia berbalas, setia tuanku setia terbatas” * Dalam teater tradisi Mendu, tokoh Mendu digambarkan sebagai pahlawan. Namun, pada sudut lain, perempuan dalam posisi yang begitu rendah. Perempuan-perempuan ditempatkan sebagai gundik, pelayan, perempua…
Puisi-puisi dalam Jari Tengah ini terbangun karena teks, visual, dan audiovisual yang meminjam dua kategori pengalaman. Pertama, pengalaman di luar diri penyair, dalam hal ini orang-orang. Saya ingin menyebut khusus pengalaman itu berasal dari Kakek dan Nenek saya, yang mana di kampung, mereka cukup dikenal sebagai dukun dan pabarzanji. Kedua, pengalaman saya pribadi membaca, mendengar, dan mel…
Dalam waktu kehilangan adalah jarum patah angka-angka patuh mengembalikan kita dalam bentuk utuh bukan siapa-siapa tidak apa-apa juga bagaimana tapi kapan maut dan cinta bersiteru di sublim waktu * Puisi adalah wahana dialog antara diri sendiri dan momentum tentang perjalanan dari sebuah kehilangan hingga menemukan. Dan buku ini adalah sebuah gagasan yang bisa menjadi jembatan unt…
Di toko buku, sering kali buku puisi menjelma makhluk “antara ada dan tiada”. Di hadapan buku puisi, orang-orang lalu lalang, namun tidak memandang ke arahnya. Di lain waktu, sepasang remaja perempuan membongkar rak buku itu dan mencari buku puisi romantis. Seorang di antaranya menyarankan untuk tidak memaksakan diri mencari buku tersebut. “Cari saja di google!” katanya seraya berlalu. …
Bulu matamu: padang ilalang Di tengahnya sebuah sendang Kata sebuah dongeng. Dulu ada seorang musafir datang bertapa untuk membuktikan apakah benar wajah bulan bisa disentuh lewat dasar sendang Ia tak percaya, maka ia menyelam Tubuhnya tenggelam dan hilang di arus maha dalam. Arwahnya menjelma pusaran air berwarna hitam Bulu matamu: padang ilalang.