Membaca Semasta adalah bacaan fiksi karya Joko Widodo yang berisi kumpulan puisi yang diklasifikasi menjadi empat kelompok, yaitu Kita yang Bicara, Kepada Anakku yang Lahir Perempuan, Membaca Semesta, dan Bersucilah. Membaca Semesta adalah kumpulan puisi yang berisi tentang kehidupan dan lingkungan di sekitar kita. Membaca Semesta membawa pesan kepada kita tentang: keberanian melakukan ak…
GUNTINGAN PERS DAN KOMENTAR Ketika saya membacanya untuk pertama kali di rumah tahanan Jalan Keagungan, Jakarta, saya merasa seakan angin segar datang menghembus melenyapkan kegelapan yang ditimbulkan dalam relung-relung kalbu manusia Indonesia oleh tirani seratus menteri. - MOCHTAR LUBIS, 1966 Kami mersa bahwa kami menjadi bagian dari sajak-sajaknya, dan sajak-sajaknya bagian dari kami. …
Aku ingin jadi mata waktu Yang tahu cara memandang rindu Dengan denyut doa di jantung ibu Ibu meminjamiku mata Untuk melihat kehilangan Dan membalasnya dengan kehadiran Ibu meminjamiku waktu Untuk merangkai hidup Dengan penuh degup Aku ingin jadi mata bagi waktu Mata yang senantiasa terbuka Mata yang penuh oleh cinta
Goenawan menulis puisi (terakhir Don Quixote), karya lakon (terakhir Amangkurat, Amangkurat, dipentaskan di Jakarta dan Kuala Lumpur), novel (Surti dan Tiga Sawunggaling) dan sampai hari ini menulis tiap pekan Catatan Pinggir di Majalah Tempo, esai-esai pemikiran yang di tahun 2017 dikumpulkan sampai 12 jilid. Orfeus, sebuah sajaknya ditafsirkan dalam koreograf I oleh Melati Suryodarmo, di mana…
"Dengan kadar surealisme yang pekat, puisi-puisi Kiki masih juga bisa menempuh sikap ilmiah atau kuasi-ilmiah, yakni dengan menyerap fenomena sains yang keras dan mengolahnya menjadi peristiwa puitik yang merangsang imajinasi pembaca." −Zen Hae, kritikus sastra (Tempo, 14-20 Januari 2019)
Faruq Juwaidah adalah penyair modern ternama berkebangsaan Mesir, kelahiran 10 Februari 1945. Ia berkarier sebagai jurnalis di salah satu surat kabar tertua Mesir, Al-Ahram, dan telah menerbitkan 20-an buku dalam berbagai genre, mulai puisi, prosa-lirik, drama, serta kritik wacana kontemporer, baik dalam bidang ekonomi, budaya, maupun politik. Sebagai penyair, ia terkenal dengan sajak-sajak cin…
“Andai aku diberi pilihan tentang suatu negeri Kukatakan bahwa engkau adalah negeriku Jika aku melupakanmu, oh kekasih hidupku Maka hatiku yang tulus juga akan melupakanku Jika aku tersesat di tengah jalan Di matamu alamatku” (Faruq Juwaidah)
Ada kebanggaan tersendiri ketika penyair menerbitkan buku puisi; berbagi karya kepada khalayak ramai, tak sekadar proses dokumentasi. Lebih dari itu, penerbitan buku puisi merupakan pembuktian eksistensi seorang penyair. Karya puisi menunjukkan seberapa besar konsistensi dalam menulis dan ‘merekam’ pengalaman batin penyair. Puisi-puisi dalam buku kumpulan puisi kedua ini saya tulis sepan…
siapakah yang berjalan sendirian. bayang-bayang. menyusur ribuan kenang. Aku mengingatmu. ketika angin sasap. senyap. lindap dan tuhan hilang di ujung ratap. Puisi adalah peristiwa hari ini. Saya menulis segala yang saya lihat dan rasakan, baik secara lahir maupun batin. Bukan sekadar kata-kata yang dirangkai sedemikan rupa agar menjadi indah. Puisi bagi saya adalah esensi. Robi Akbar
Sungguh, puisi serupa Medusa. Barangsiapa menatap matanya, kaku gugu tubuhnya. Kau boleh menghitung mundur. Di luar, kelinci jatuh dari bulan. Burung gagak meminjam teriakan Tuhan. Musik dimainkan—tidak ada nada minor. Patah hati selalu nisbi dan kita pandai berpura-pura. * Saya ingin punya umur panjang di dalam puisi—sekalipun jalannya berliku, berlubang, becek, juga banyak rambu yang se…
Di suatu bagian dalam Les Mots, Sartre menulis: “Meski tak terlihat di kegelapan, buku tetap berkilau demi dirinya sendiri. Di kemudian hari, akan kuberikan kepada karya-karyaku nada keras setajam sorotan cahaya itu, dan lebih nanti di kemudian hari, di tengah-tengah puing-puing perpustakaan, karya itu akan lebih lestari daripada manusia sendiri.” Nukilan dari Sartre agaknya sedikit banyak …
Hatiku jendela yang membuka Seperti kulihat wajahku ke dalam cermin Maka di dalam cermin itu kulihat wajahmu juga Yang menerangi bahwa hari ini adalah puisi indah - Hari Ini adalah Puisi Indah Setelah menulis sajak, lalu membacanya ulang, saya menjadi yakin, sajak merupakan harapan di antara tampilan citraan, dan pernyataan, yang ditegakkan untuk merobohkan keputusasaan dalam realitas hi…
Bintang gemintang berjatuhan ingin mendekat kepadanya sampai-sampai seluruh penjuru terang benderang dihujani cahaya Gedung paviliun kaisar Rum satu per satu menampakkan diri sampai-sampai semua orang di Lembah Makkah dapat melihatnya *** Buku puitis karya Imam Bushiri ini adalah sekuel kedua dari buku (kitab) terkenal Qasidah Burdah, yang jamak dibacakan dan didendangkan oleh um…
Tahta Sungkawa merupakan kumpulan puisi terbaru Binhad Nurrohmat. Ditulis ketika pandemi tengah berlangsung. Masa ketika bermiliar rasa khawatir dan ledakan statistik kematian bagaikan perayaan besar yang gaduh dan muram terjadi setiap hari dan yang tak mustahil menginfeksi kehidupan manusia. Menurutnya, hidup di masa pandemi membuatnya merasa menjadi makhluk berdarah dingin: asyik dengan kata …
Han Na o Han Na, katakan padaku kematian macam apa yang tak akan menundukkan kepala di hadapan mata si gila? Sungguh menyenangkan usiaku lewat sia-sia karena membayangkanmu Tersenyum-senyum sendiri melihat wajahmu meloncat dari satu benda ke benda lain Sedih mengharu-biru kala teringat kau dan aku tak mungkin bisa bersatu * Sajak-sajak di dalam buku ini saya buat dalam rentang wakt…
Puisi-puisi dalam buku ini menjadi semacam percakapan puitik Rieke Diah Pitaloka dan Agus Noor. Dari satu puisi ke puisi lainnya, ada semacam tema yang membuat puisi-puisi itu saling terkait dan terikat. Puisi menjadi ruang untuk saling berbagi, juga menjadi semacam jeda, untuk menikmati kenangan dan hal-hal lainnya. Maka, puisi-puisi dalam buku ini, seakan berada dalam ketegangan yang menga…
Antologi puisi Negeri Daging adalah sebentuk “keistiqomahan” penulisnya dalam mengikuti perjalanan kehidupan makhluk Tuhan yang ia cintai: manusia dan Indonesia. Apa yang tertuang di dalamnya secara langsung, jernih, dan benderang mampu mengungkap sikap dan gerak hati penulisnya. Tak ada lagi beban untuk memilih-milih dan memacak kata yang indah, agung, dan “puitis”. Seperti setia…
wahai kepulangan, bau amis laut membentangkan kehampaan ke mana perginya kebahagiaan? sebab adat membenamkan pertemuan dan menelan kebisingan * Apakah saya akan menulis puisi sampai mati? Berkali-kali saya pernah mencoba berhenti menulis puisi. Namun, panggilan menulis itu datang lagi. Beberapa tahun saya abaikan puisi karena kesibukan kantor. Namun, huruf-huruf bermunculan dalam mimpi-mi…
Kekhusyukan adalah gelombang Yang mengendap jauh di balik dada Hempasan ombak yang mengental Pada lubuk hati. Adapun keheningan Tak lain puncak tertinggi dari puisi Yang dibangun seorang penyair Menjadi doa. Sebuah menara sunyi Yang tegak di antara kehancuran Dan kebangkitan kembali kata-kata
Berbeda dengan puisi tema lain yang kadang memiliki motif tertentu, entah itu politis maupun estetis, bagi saya puisi cinta—meminjam istilahnya Umbu Landu Paranggi—adalah puisi “zero referensi”. Puisi yang tak membutuhkan rujukan laiknya puisi dengan tema yang lebih spesifik. Begitu pun puisi bertema maut (dalam pengertian luas) yang menjadi bagian kedua di buku ini. Sebagaimana cint…
Sepanjang sejarah interaksi perempuan dan lelaki di dunia ini, perempuan banyak mengalami perlakuan yang tidak nyaman dan diskriminatif, khususnya di masyarakat Timur Tengah. Meskipun tanah Timur Tengah menjadi tempat turunnya berbagai kitab suci yang membawa pesan-pesan kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan, namun perempuan di tanah sakral tersebut seakan-akan masih menjadi tumbal dari kedigday…
lima hari berbantal ombak berselimut angin baru kutiba di pantai losari pisang panggang dan sarung makassar yang merah kesumba mengajarku hidup di laut karena lama di darat aku tak betah olle ollang memanjat ombak mengejar angin menurut cerita aku ini keturunan pejuang penguasa laut jawa pada abad-abad yang lalu
Nama buku Kumpulan Puisi ini benar-benar menggambarkan alam Penyair dan puisi-puisinya. Asmaraloka. Catatlah, kelahiran Penyair Cinta ini. Usman Arrumy. -KH. A Mustofa Bisri Usman Arrumy menurut hemat saya adalah seorang penyair penghayat. Buku-buku sufi yang ditelaahnya cukup banyak. Bahkan ia telah menerjemahkan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono ke dalam bahasa Arab, dan hasilnya bagus. Be…
“hana nguni hana mangke tan hana nguni tan hana mangke” Selarik kata-kata dari Amanat Galunggung itu jika diterjemahkan, kira-kira begini artinya: ada masa lalu maka ada masa kini, tak akan ada masa kini kalau tidak ada masa lalu. Mereka, masa lalu, masa kini, dan masa depan, bersatu dalam satu tubuh. Tubuh waktu. Puisi bagi saya adalah masa lalu, masa kini, dan masa depan. Puisi mencari…
Aku merindukan sungai kecil Pada kedua matamu Aku melihat dirimu Sebagai pagi, bait puisi Juga impian Aku mendapatimu Pada segala hal yang menggairahkan Aku sudah melampaui dosa-dosa malam Aku sudah memaafkan Zaman edan pada dirimu Faruq Juwaidah
Bangun tidur, ia langsung menghidupkan telepon genggam: mudah-mudahan ada pesan. Masih ngantuk. Masih ada kabut mimpi di matanya. Masih temaram. Sebenarnya apa perlunya pagi-pagi menyalakan telepon genggam? Paling-paling cuma dapat pesan ringan: “Bagaimana tidurmu semalam? Tadi saya menunggu lama di kuburan.”
Kepenyairan Nizar Qabbani memang telah menyita perhatian banyak orang. Tema-tema cinta yang ia angkat membuat dirinya ditahbiskan sebagai Penyair Cinta atau Penyair Perempuan abad modern. Dari sekian banyak puisi cintanya, Nizar selalu berbicara tentang perempuan atau kadang kala ia bersuara begitu lantang atas nama perempuan. Nizar memang pribadi yang mampu menciptakan romantisme mendalam tent…
Saya bertolak sekarang ke ladang. Sebagai roh. Menyapa kopra, kebun kelapa, karet dan jati. Sonder jantung. Melayang ke gerbang makam, makam saya. Manis gula merah sebagai pelipur. Tetapi sekarang saya roh. Mengendus sunyi bijih besi Tegal Buleud seperti menyongsong magrib tiba. * Puisi adalah niat baik, adalah proses berjalan. Entah apa saya sudah tiba pada niat baik atau terlampau…
Mungkin di seberang, di laut lepas itu sebuah kuil telah raib, dan kita terus bertanya-tanya Apakah di laut, di pulau yang karam itu sebuah rahasia mulai tak terdengar dan gemanya, tak lagi memanggil-manggil nama kita? Puisi-puisi dalam buku ini menyoal diri yang tak selesai: eksistensi yang tercerai berai, kekalahan dan perlawan dalam hidup yang kebak oleh nasib buruk. Ia mengajak man…